Info Terakhir
- SELAMAT IEDUL FITRI 1431 H
- PEMPROV JABAR ADAKAN BUKU PELAJARAN GRATIS 2010
- 4 KELEBIHAN KARTU LEBARAN DIBANDING SMS
- GUBERNUR JABAR AHMAD HERYAWAN KLARIFIKASI KARTU LEBARAN
- DISPARBUD JABAR AKAN MINTA DANA DEKONSENTRASI
- BAHAN BAKAR JANGAN KHAWATIR
- PROGRAM DESA PERADABAN DILUNCURKAN
- GUBERNUR JABAR CANANGKAN 100 DESA MANDIRI
- PEMDA DIMINTA BERI KOMPENSASI
- DISHUB SEDIAKAN 10 POS PENGADUAN
Pengunjung
We have 108 guests onlineJajak Pendapat
| WUJUDKAN JAWA BARAT SEBAGAI GREEN PROVINCE |
|
|
|
| Friday, 30 July 2010 07:21 |
|
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menegaskan kembali komitmennya untuk menjadikan kawasan Jawa Barat sebagai “Green Province”. Diantaranya dengan mewujudkan program 45 persen kawasan lindung di Jawa Barat.
“Pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan akan berhasil bila melibatkan secara aktif peran masyarakat, khususnya yang mendiami kawasan hutan. Masyarakat sekitar hutan merupakan mitra strategis dalam rangka pemberdayaan dan pengelolaan sumberdaya hutan serta mendukung mewujudkan pencapaian 45 persen hutan lindung di Jawa Barat,” tegas Heryawan. Berdasarkan data Dinas Kehutanan Jawa Barat, 22,9 persen dari luas daratan di Jawa Barat merupakan kawasan hutan atau setara dengan 816.000 hektar. Dari hutan lindung dan 393.117 hektar merupakan hutan produksi. “Semua potensi itu diharapkan dapat dikelola dengan bijak sekaligus dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat. Tentunya kelestarian hutan yang dimanfaatkan secara berkelanjutan harus menjadi perhatian kita semua,” ujar Heryawan. Menurut Heryawan, hal penting dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan adalah bagaimana menjaga agar hutan itu tetap lestari sebagai penyangga keseimbangan lingkungan utama. Kejadian bencana alam yang terjadi, pada hakikatnya akibat kelalaian dalam memanfaatkan hutan yang dilakukan secara berlebihan tanpa melihat aspek keberlanjutan. “Untuk itu harus kita cegah sejak dini hal hal yang mengancam kerusakan hutan, seperti penjarahan, perambahan liar dan kebakaran hutan. Semua itu harus kita cegah bersama,” tegasnya. Dalam rangka itulah, lanjut Heryawan dibutuhkan peran aktif masyarakat sekitar hutan dalam rangka menjaga keberlangsungan dan kelestarian hutan. Apalagi di Jawa Barat terdapat 1.370 desa atau hampir 25 persen dari seluruh desa di Jawa Barat menempati kawasan sekitar hutan. Ini artinya peran masyarakat dalam menjaga hutan sangat strategis. “Sumberdaya manusia di perdesaan sangat strategis dalam proses pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam khususnya hutan yang ada di sekitar desa mereka. Pola Pemberdayaan Hutan Bersama Masyarakat atau PHBM merupakan cara jitu merangkul semua pihak dalam melestarikan hutan,” tuturnya. Heryawan menyatakan sumber daya hutan memegang peranan penting bagi keberlangsungan hidup manusia di muka bumi. Karena disamping memiliki fungsi produksi, hutan juga berpengaruh pada kelestarian alam dan lingkungan. Atau ”no forest, no water and no future”. Untuk itu dalam pengelolaan sumber daya hutan harus arif dan bijaksana. Sehingga kelestarian fungsi dan manfaatnya dapat terjaga, dan mampu memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar. Saat ini, lanjut Heryawan luas kawasan hutan Jawa Barat sekitar 816,6 ribu hektar, atau 22,9% dari luas daratan yang mencapai 3,7 juta hektar. Hal ini merupakan potensi sumber daya alam yang luar biasa. Apalagi bila dikelola dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, akibat penjarahan, pembakaran, perambahan dan tata kelola yang salah, saat ini sebagian kawasan hutan Jawa Barat dalam kondisi kritis. Untuk itu Pemerintah Propinsi Jawa Barat tetap mengagendakan program Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK).Adapun lokasi yang menjadi prioritas GRLK adalah Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu DAS Citarum, DAS Citanduy, DAS Cimanuk dan DAS Cisanggarung. Sementara itu, Pemerintah Pusat juga akan menyiapkan anggaran untuk perbaikan lahan kritis seluas 46.000 Ha. GRLK merupakan program yang signifikan guna menghijaukan kembali kawasan kritis.Untuk itu program tersebut akan terus digulirkan hingga kawasan kritis hijau kembali. Karena bencana alam, khususnya banjir dan longsor yang melanda Jabar akibat kerusakan hutan. Meskipun demikian,program GRLK tidak bisa langsung dirasakan manfaatnya saat ini, karena butuh waktu untuk menumbuhkan pepohonan keras.“Paling tidak lima tahun ke depan dapat kita nikmati hasilnya,” ujar Heryawan. Dalam rangka menunjang program GRLK, Pemprov Jabar sudah mempersiapkan beberapa kegiatan antara lain berupa rehabilitasi vegetatif, pemeliharaan hasil rehabilitasi lahan kritis, bimbingan masyarakat, pengembangan kelembagaan dan kemitraan masyarakat serta peningkatan peran masyarakat dalam upaya rehabilitasi lahan kritis.”Budaya menanam, harus dihidupkan kembali, bias saja setiap pengantin baru diwajibkan menanam pohon. Demikian juga dengan pengusaha dan pelajar pun, sebisa mungkin menggalakan budaya menanam pohon,” tegas Heryawan. Ditambahkan Heryawan, kepala daerah, harus mampu memilah dan memilih secara selektif dan komprehensif, khususnya bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di dalam kawasan hutan. “ Hal itu penting agar pemanfaatan fungsi ekonomi kawasan hutan tidak mengabaikan fungsi utamanya sebagai sumber kelestarian hidup manusia dan mahluk hidup lainnya sebagai kesatuan ekosistem,” tegas Heryawan. Sehubungan dengan itu, maka ada beberapa hal yang mesti menjadi catatan yaitu membangun sinergitas dan komunikasi antar seluruh stakeholders untuk lebih berperan aktif dalam pemanfatan sumberdaya hutan dan lahan secara arif dan bijaksana. (dni) Sumber Harian Radar Bandung - Jum'at, 30 Juli 2010 |
Slide
No imagesPopular
- IDEOLOGI PANCASILA
- BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)
- SAJAK "BODOR" WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA
- KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBALISASI
- IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA
- PEREKONOMIAN INDONESIA 2010
- 488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009
- PENANGGULANGAN BANJIR
- TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK
- MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH
- PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009
- SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
- SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH
- 9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008


