Tue10212014

Last update05:11:18 PM

Lintas Jabar

MENGELOLA POTENSI LAUT INDONESIA

DALAM menilai perkembangan akhir-akhir ini, termasuk dalam mengelola potensi laut Indonesia, ada tiga tiang utama Indonesia yang perlu diperhatikan: Pertama, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang menyatakan, Indonesia itu adalah satu bangsa, satu nusa, dan satu bahasa. 

Ini adalah satu kesatuan kejiwaan kebangsaan Indonesia yang harus selalu menjiwai setiap perkembangan yang terjadi. Apa pun perkembangan tersebut, hendaknya jangan sampai mengabaikan satu kejiwaan Indonesia sebagai satu bangsa tersebut. Kedua,Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang menyatakan, rakyat Indonesia yang menjadi satu bangsa ingin hidup dalam satu kesatuan kenegaraan,yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Bagaimana pun perkembangan yang terjadi khususnya dalam mengembangkan otonomi daerah dan mengelola laut Indonesia, pengelolaan tersebut jangan sampai menghancurkan tiang kesatuan kenegaraan Indonesia. Ketiga, Deklarasi Pemerintah 13 Desember 1957 (Deklarasi Djuanda) yang menekankan bahwa bangsa Indonesia yang hidup dalam NKRI berada dalam suatu kesatuan kewilayahan berbentuk kepulauan (Nusantara) yang merupakan satu kesatuan dari seluruh wilayah darat, 

laut antara darat, termasuk dasar laut dan tanah di bawahnya, udara di atasnya dan seluruh kekayaannya merupakan kesatuan kewilayahan yang harus dipergunakan bagi sebesarbesar kemakmuran rakyat Indonesia sesuai amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Bagaimanapun kekecewaan daerah terhadap pemerintah pusat dan perkembangan yang terjadi, semua itu janganlah menghancurkan kesatuan kewilayahan Indonesia tersebut. Dalam mengelola kekayaan laut Indonesia,perlu kiranya dipahami hakikat dari kekayaan-kekayaan laut Indonesia yang beragam.

Yang sangat menonjol dan banyak dibicarakan pada waktu ini adalah kekayaan laut hayati/perikanan yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Baik kekayaan ikan yang dieksploitasi nelayan tradisional maupun yang dilaksanakan perusahaan perikanan besar. Di samping itu juga sangat penting peranan perikanan hias dan perikanan untuk keperluan olahraga yang belum begitu berkembang di Indonesia.

Pengelolaan perikanan akhir-akhir ini menjadi sangat menonjol tidak saja karena potensinya yang besar untuk memperbaiki kehidupan ekonomi rakyat, tetapi juga karena banyaknya pencurian-pencurian ikan di laut serta cara penangkapannya yang tidak berkelanjutan (sustainable). Walaupun sumber perikanan Indonesia cukup besar, karena hakikatnya yang di beberapa tempat cukup sensitif terhadap overeksploitasi dan pencurian, pengelolaannya pun harus dilakukan dengan hati-hati. 

Selain itu harus memperhatikan berbagai ketentuan regional dan internasional. Kekayaan alam lainnya adalah dalam bentuk mineral baik mineral cair seperti minyak dan gas (migas) maupun mineral keras seperti nikel, tembaga, timah, dan lain sebagainya. Eksploitasi migas di Indonesia sudah cukup ekstensif dan telah membawa kontribusi yang besar bagi keuangan negara. 

Namun, eksploitasi kekayaan alam mineral yang keras pada umumnya baru terdapat di sepanjang pantai seperti timah,pasir laut dan pasir besi. Masih diperlukan penelitian intensif untuk dapat mengetahui hakikat, kuantitas, kualitas, dan komersiabilitas, dari mineral-mineral lain di dasar laut dan tanah di bawah perairan Nusantara dan landas kontinen Indonesia yang jutaan kilometer persegi luasnya itu. 

Di samping kekayaan alam hayati dan nabati tersebut di atas, laut Indonesia juga mempunyai kekayaan lain yang belum seluruhnya dieksploitasi seperti tenaga alam yang berasal dari arus, gelombang/ombak, angin, perbedaan suhu air di bawah dan di permukaan laut serta geotermal di dasar laut. Di beberapa tempat di Indonesia seperti di Banyuwangi, Nias, dan Mentawai, prospek pemanfaatan ombak untuk keperluan olahraga selancar sangat besar. 

Karena itu, perkembangan pengetahuan internasional tentang kelautan kini juga sudah menemukan sumber-sumber mineral baru di dasar laut dan tanah di bawahnya seperti nodules (yang kaya dengan tembaga, nikel, kobalt, mangaan, dan bahan-bahan mineral lainnya yang diperlukan untuk hi-tech industries),metal sulphide,yang banyak ditemukan di corong-corong gunung berapi di dasar laut, metal crusts yang mulai banyak ditemukan di pinggir-pinggir seamounts, dan methane hydrate, yaitu gas-gas yang ditemukan dalam bentuk gumpalan seperti es di dalam sedimen di bawah dasar laut. 

Indonesia memerlukan penelitian intensif untuk dapat mengidentifikasi mineral-mineral tersebut, menilai komersiabilitasnya, serta mengembangkan teknologi dan prosesnya untuk dapat bermanfaat bagi bangsa dan negara. Negara-negara pantai yang dikelilingi gunung-gunung berapi di dasar laut seperti Papua Nugini telah lebih lama memperhatikan masalah ini dan menemukan metal sulphide tersebut di Magmanus Basin di Bismarck Sea dan metal crusts yang banyak mengandung emas di Conical Seamounts, sebelah timur Pulau New Ireland. 

Papua Nugini telah memberikan konsesi kepada perusahaan asing/Australia (Nautilus) untuk meneliti dan mengembangkannya. Di samping itu, Namibia juga sudah lama mengeksplorasi dan mengeksploitasi berlian di dasar laut di lepas pantainya. Kekayaan laut Indonesia lain yang juga sangat penting adalah ruang udara dan ruang laut Indonesia yang sangat luas itu yang sangat berpotensi untuk mengembangkan perkapalan dan perhubungan udara, pariwisata, dan sebagai sarana bagi pemersatu bangsa dan negara. 

Pemanfaatan ruang laut Indonesia bagi perkapalan akhirakhir ini banyak menemui kesulitan terutama karena semakin banyaknya transportasi antarpulau Indonesia yang mempergunakan kapal-kapal berbendera asing,dan hampir seluruh barang ekspor impor Indonesia dibawa kapalkapal berbendera asing. Menteri Perhubungan RI pernah menyatakan bahwa Indonesia harus mengeluarkan lebih dari USD10 miliar setahun untuk biaya transportasi ekspor nonmigas tersebut. 

Pemanfaatan ruang udara Indonesia kelihatan lebih efektif karena semakin banyak tempattempat terpencil di Indonesia yang dapat dijangkau dengan pesawat udara dan telekomunikasi. Pemanfaatan ruang laut untuk pariwisata menunjukkan harapan yang besar, tetapi akhir-akhir ini pelbagai harapan tersebut agak terganggu karena kerusakan lingkungan laut, baik karena pencemaran maupun karena kerusakan terumbu karang. 

Pemanfaatan ruang untuk mempererat persatuan bangsa dan kesatuan negara yang pada mulanya menjadi salah satu dasar utama untuk memperjuangkan pengakuan internasional terhadap Kesatuan Nusantara akhirakhir ini banyak mendapat tantangan- tantangan dari otonomi daerah dan pergolakan-pergolakan yang menjurus kepada separatisme. Indonesia juga memiliki banyak laut dan selat-selat yang sangat vital dan strategis bagi komunikasi antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, yang tidak saja penting bagi kapal-kapal dagang, tetapi juga bagi kapalkapal perang, termasuk kapal selam. 

Karena itu, ruang laut dan udara Indonesia mempunyai nilai yang sangat strategis, bukan saja bagi Indonesia, tetapi juga terutama lagi bagi negara-negara maritim dan negara-negara besar lainnya, khususnya Amerika Serikat, Jepang, RRC,Australia, dan lain-lain. Indonesia perlu lebih mampu memelihara dan memanfaatkan posisi strategis ini untuk meningkatkan keamanan dan menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa dan negara.

Di samping berbagai hal di atas, laut Indonesia yang sepanjang sejarahnya selama ribuan tahun ramai dilayari kapal-kapal, termasuk milik asing, mengandung ribuan benda-benda/kapal-kapal yang mempunyai nilai-nilai historis, arkeologis,ataupun harta karun. Prospek pengelolaan bendabenda berharga ini di dasar-dasar laut Indonesia belum banyak diselidiki, apalagi dimanfaatkan, dan karena itu masih sangat besar kemungkinannya untuk dikembangkan di masa depan. 

Akhirnya perlu pula dicatat bahwa laut-laut Indonesia adalah laut tropis yang sangat luas dan yang sangat kaya dengan biodiversity (keanekaragaman hayati). Laut Indonesia yang terletak di tengah Indo Pacific region adalah yang paling kaya dengan biodiversity dibandingkan dengan laut lain di seluruh dunia. Indonesia mengandung 1/8 dari terumbu karang (coral reefs) di seluruh dunia yang tercermin dari 85.000 km persegi coral reefs di Indonesia yang mengandung paling kurang 2.500 species reef fish dan 400 species stony corals walaupun banyak dari kekayaan alam ini yang telah rusak. Indonesia masih perlu memelihara, mempelajari, dan memikirkan bagaimana memanfaatkan kekayaan biodiversity ini untuk kepentingan bangsa dan rakyatnya.(*) 

PROF DR HASJIM DJALAL MA 
Anggota Dewan Kelautan Indonesia, 
Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan

Sumber: Harian Seputar Indonesia - Senin, 14 Februari 2011
AddThis Social Bookmark Button